A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Inflasi:-urusan-negara-atau-urusan-kita- :: Manulife Insyaf-Irit-Invest

ARTIKEL FINANSIAL


Inflasi: urusan negara atau urusan kita?

Finansial, 04-05-2015

Inflasi seolah tak pernah kehilangan posisinya sebagai topik hangat. Bagaimana tidak? Kata yang kerap diterjemahkan sebagai “kenaikan harga barang secara umum” ini sebenarnya  mengindikasikan turunnya daya beli kita, alias berkurangnya jumlah barang yang kita beli hari ini dengan sejumlah uang, dibandingkan di masa lalu. 

Akan tetapi, bagi sebagian orang, inflasi bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.  Kok bisa? Ya, kan ada kenaikan gaji. Buat mereka yang menikmati kenaikan gaji cukup signifikan - misalnya 10% - efek  inflasi Indonesia yang selama sepuluh tahun ini berada di kisaran 8% per tahun sepertinya masih enteng. Apakah benar begitu? Mari kita kenal lebih dekat dengan inflasi.

Walaupun didefinisikan sebagai “kenaikan harga barang secara umum”, sebenarnya angka inflasi dihitung dari perubahan berbagai harga barang yang lazim digunakan di suatu negara. Barang-barang tersebut dimasukkan ke sebuah 'keranjang' imajiner yang disebut inflation basket.  Di Indonesia, inflation basket terdiri dari bahan makanan (termasuk makanan olahan, minuman dan rokok), perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan (termasuk olah raga) serta transportasi dan komunikasi. Masing-masing komoditi mengalami kenaikan harga yang berbeda-beda. Bahan makanan mungkin harganya naik 3%, pendidikan 20%, kesehatan 15%.  Setelah dihitung dan dibobotkan, pada akhirnya keluarlah angka inflasi tersebut, misalnya 8%. 

Masalahnya, apakah ini berarti bahwa kita sebagai individu atau keluarga juga mengalami kenaikan harga barang sebesar 8%? Ternyata tidak begitu, karena inflation basket untuk menentukan inflasi di suatu negara cakupannya adalah negara, sedangkan  masing-masing individu sebenarnya juga memiliki inflation basket yang berbeda tergantung konsumsi.  Misalnya, sebuah keluarga dengan 5 anak usia sekolah tentu harus   lebih banyak memperhitungkan inflasi pendidikan dibandingkan keluarga tanpa anak.  Contoh lain yang lebih sederhana, seseorang yang senang makanan pedas tentu lebih akan merasakan dampak kenaikan harga cabai dibandingkan seseorang yang tidak doyan pedas.  

Kita, sebagai individu dan keluarga, sebaiknya lebih tajam mencermati  berapa inflasi tahunan kita. Setelah menghitung sendiri inflasi Anda sebagai individu atau keluarga, jangan lupa cermati penghasilan dan simpanan Anda. Apakah kenaikan gaji Anda masih sanggup mengejar inflasi pribadi Anda? Berikutnya, apakah simpanan Anda memberikan bunga di atas inflasi pribadi Anda? Jika tidak, Anda jelas menghadapi risiko finansial, yaitu bukannya bertambah makmur, malah semakin miskin karena tak sanggup mengejar inflasi pribadi.

ARTIKEL LAINNYA

Katanya Biar Hemat Belanja di Supermarket, Apa Benar?

Males belanja di pasar tradisional? Sekarang supermarket ada di mana-mana. Lantai bersih, pake AC, pokoknya…

1064 views

Manajemen amplop: investasi untuk banyak mimpiku

Jika Anda sudah berinvestasi, bagus. Tapi bagaimana Anda mengelola investasi Anda?

1423 views

Antara Butuh atau Ingin: Mana yang Harus Diutamakan?

Padahal hakikatnya, manusia nggak membutuhkan banyak hal dalam hidup. Lihat saja bagaimana ilmu dasar kebutuhan…

1358 views

Manulife insyaf irit investasi

CONTACT INFO

Sampoerna Strategic Square, South Tower, 31st fl.
Jl. Jend. Sudirman Kav.45-46, Jakarta 12930
(021) 2555 22 55
MAMI_customer_id@manulife.com
www.reksadana-manulife.com